Psikologi Ruang: Kenapa Desain Ruang Terbuka Hijau Bisa Mengurangi Tingkat Stress Penghuni Rumah
Pernah nggak sih, kamu masuk ke sebuah rumah mewah, marmernya impor, lampunya kristal, tapi entah kenapa rasanya panas dan bikin ingin cepat-cepat keluar? Di sisi lain, ada rumah yang biasa saja, tapi ada pohon kamboja kecil di sudutnya, dan rasanya kamu bisa duduk di sana berjam-jam sambil ngopi.
Itulah kekuatan psikologi ruang. Di Indonesia, kita sering terjebak pada tren estetika tampak depan. Padahal, rahasia hunian yang bikin betah itu ada pada seberapa besar kita memberikan ruang bagi alam untuk masuk ke dalam bangunan.
1.Ruang Tengah Hijau (RTH) Sebagai Penenang di Kota Beton
Hidup di Jakarta, Surabaya, Medan, atau kota besar lainnya di Indonesia itu melelahkan. Kita dikepung polusi suara, macet yang nggak masuk akal, dan tuntutan kerja yang fast-paced. Secara psikologis, otak manusia punya batas toleransi terhadap kebisingan visual kota.
Berdasarkan kajian Mohamad Fakhri Mashar (2021) dalam Jurnal Syntax Admiration, Ruang Terbuka Hijau (RTH) berfungsi sebagai instrumen peredam stres. Tanaman bukan cuma penyaring udara, tapi penyaring emosi. Melihat gradasi warna hijau terbukti secara ilmiah menurunkan kadar hormon kortisol (hormon stres). Jadi, taman di rumah itu sebenarnya adalah asuransi kesehatan mental yang nggak perlu dibayar preminya tiap bulan.
Baca juga: Hal yang Tidak Bisa Dibeli dengan Uang
2. Fenomena Healing Environment
Dulu, taman itu di luar rumah. Sekarang, trennya adalah Biophilic Design, membawa elemen alam ke dalam setiap jengkal ruangan. Mashar (2021) menyebutkan konsep Healing Environment, di mana sugesti positif muncul dari kedekatan kita dengan alam.
Bayangkan kamu bangun tidur, dan hal pertama yang kamu lihat bukan tembok putih polos, tapi bayangan daun yang bergerak di jendela atau gemericik air dari kolam kecil di inner courtyard. Itu adalah suntikan dopamin alami yang bikin mood kerja kamu seharian jadi beda banget. Ini bukan cuma soal gaya hidup, ini soal fungsi biologis manusia yang memang aslinya didesain buat dekat sama alam, bukan beton.
3. Nilai Ekonomi dari Ketenangan
Kalau kita bicara sebagai CEO atau investor, RTH itu bukan biaya yang membuang lahan. Justru, RTH adalah value multiplier.
- Market Milenial & Gen-Z: Mereka sekarang lebih memilih unit kecil dengan sirkulasi udara dan cahaya matahari yang melimpah daripada unit besar yang gelap dan pengap.
- Resale Value: Properti yang terintegrasi dengan lingkungan hijau yang sehat punya nilai jual kembali (capital gain) yang jauh lebih stabil. Kenapa? Karena orang bersedia bayar lebih mahal buat sesuatu yang langka di kota besar yaitu, ketenangan.
4. Anatomi Rumah yang Bernapas
Di luar jurnal Mashar, kita harus paham bahwa secara teknis, RTH mikro di dalam rumah seperti taman kering atau void juga berfungsi sebagai paru-paru bangunan. Ini berkaitan dengan anatomi bangunan yang benar. Sirkulasi udara yang lancar mencegah kelembapan berlebih, jamur, dan bau apek. Rumah yang sehat secara fisik akan menciptakan penghuni yang sehat secara mental.
Sebagai pelaku industri properti di level nasional, tugas kita adalah mengedukasi masyarakat bahwa rumah adalah tempat pulang dalam arti yang sebenarnya. Rumah harus bisa menyembuhkan lelahnya kita setelah seharian bertarung di luar sana. Jangan pelit kasih ruang buat pohon, jangan pelit kasih ruang buat udara. Karena pada akhirnya, properti terbaik adalah properti yang memanusiakan penghuninya.
Nah itu dia penjelasan psikologi ruang "ruang terbuka hijau". kalau kamu lagi cari rumah, kamu bisa cari rumah impian kamu melalui website kami di propnexplus.com atau disini.
Sumber :
Sitasi & Referensi: Mashar, M. F. (2021). Fungsi Psikologis Ruang Terbuka Hijau. Jurnal Syntax Admiration, 2(10), 1930-1943. https://doi.org/10.46799/jsa.v2i10.332


