PropNex Indonesia
PropNex Indonesia
Team Redaksi
20 October 2025 16:45
3 Menit

6 Penyebab Rumah Tetap Panas Meski AC Menyala, Wajib Cek!


Cuaca panas ekstrem kembali melanda berbagai kota di Indonesia, termasuk Surabaya, dengan suhu yang dilaporkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bisa menembus 37,6 derajat Celcius. Imbauan untuk tidak beraktivitas di luar ruangan dari pukul 10.00 hingga 16.00 WIB pun wajib dipatuhi demi kesehatan.

Solusi paling logis tentu saja berlindung di dalam rumah. Namun, masalahnya tidak berhenti di situ. Banyak yang mengeluh meski sudah berada di dalam ruangan, suhu tetap terasa panas, gerah, dan pengap, seolah hawa panas dari luar merembes masuk tanpa henti.

Anda mungkin langsung menyalakan AC, namun ruangan tak kunjung dingin secara optimal dan tagihan listrik justru melonjak. Jika ini terjadi, jangan buru-buru salahkan AC Anda. Bisa jadi, biang keladinya adalah kondisi rumah Anda sendiri. 

Ternyata, ada beberapa faktor tersembunyi pada struktur dan isi rumah yang "menetralkan" kerja keras AC Anda. Berikut adalah 6 penyebab rumah terasa panas yang paling umum, padahal AC sudah menyala dilansir dari Southern Living pada Senin, (20/10/2025).

1. Ventilasi Udara yang Buruk

Ventilasi yang tidak memadai adalah faktor utama rumah terasa panas. Tanpa sirkulasi udara yang baik, panas terperangkap di dalam ruangan dan membuat udara menjadi pengap.

Selain membuat rumah terasa panas dan pengap, ventilasi udara yang buruk juga berdampak pada kesehatan penghuni rumah. Tanpa sirkulasi udara yang baik, udara kotor, debu, dan bakteri akan terperangkap di dalam ruangan, sementara udara bersih dari luar tidak bisa masuk. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti; gangguan pernapasan, alergi, hingga tuberkulosis. 

2. Retakan di Jendela atau Pintu

Menurut CEO A. Fagundes Plumbing & Heating Al Fagundes celah atau retakan kecil di sekitar kusen jendela dan pintu mungkin tampak sepele, namun ini adalah jalur masuk utama bagi udara panas dan lembap dari luar. Udara panas tambahan ini akan melawan udara dingin yang dihasilkan AC, menyebabkan pendinginan tidak merata. 

Solusi sederhana seperti menutup celah dengan weatherstripping (karet penutup) atau dempul (caulk) bisa sangat membantu.

"Suhu udara yang sangat panas itu dapat menghambat kinerja AC dan menyebabkan pendinginan yang tidak merata. Untuk itu, segera tutup retakan dengan didempul demi menjaga udara dingin tetap masuk dan udara panas tetap keluar," jelas Fagundes.

3. Warna Atap yang Gelap

Ilustrasi warna atap yang gelap (pinterest.com)

Warna atap gelap memang terlihat elegan, namun sayangnya, warna ini menyerap lebih banyak panas matahari. Jika dikombinasikan dengan ventilasi udara yang buruk, ini akan menciptakan "zona panas" tepat di atas ruang keluarga Anda, membuat sistem AC bekerja jauh lebih keras.

"Jika atap Anda berwarna gelap, kemungkinan besar atap tersebut menyerap banyak sinar matahari dan memancarkan panasnya ke loteng," ungkap Fagundes.

4. Paparan Sinar Matahari Langsung

Cahaya alami memang bagus, tetapi terlalu banyak paparan sinar matahari langsung bisa menjadi musuh di musim panas, terlebih saat suhu ekstrem. Sinar matahari yang menembus jendela akan memanaskan semua yang disentuhnya, mulai dari lantai, furnitur, dan dinding. 

Menurut Owner Air Treatment Company Dan Simpson, fenomena ini disebut passive solar heating. Ia mengungkapkan jika jendela besar yang menghadap matahari langsung tanpa gorden jadi pemicu udara terasa panas.

“Ruangan dengan jendela besar tak tertutup yang menghadap matahari bisa memanas drastis dalam waktu singkat sehingga terasa sangat panas daripada bagian rumah lainnya,” jelasnya. 

5. Dinding Bata Tanpa Penghalang Termal

Apakah rumah Anda berdinding bata ekspos? Menurut CEO Chris Heating & Cooling Jon Gilbertsen material bata terkenal mampu menyerap panas matahari sepanjang hari. Masalahnya, panas itu akan dilepaskan perlahan ke dalam rumah setelah matahari terbenam. 

Jika rumah bata Anda tidak memiliki thermal break (penghalang termal) yang memadai, ruangan akan tetap terasa hangat hingga malam hari, bahkan setelah suhu di luar sudah turun.

"Jika Anda tinggal di rumah dari bata tanpa sekat termal seperti celah udara, panas yang terkumpul di dalam bata akan menghangatkan ruangan sampai malam hari, bahkan setelah suhu di luar ruangan mulai turun," imbuhnya.

6. Terlalu Banyak Peralatan yang Beroperasi

Tidak hanya kulkas, peralatan elektronik seperti oven, mesin cuci, dan pengering pakaian juga menghasilkan panas saat digunakan. Jika alat-alat ini dinyalakan secara bersamaan, terutama di ruangan dengan ventilasi yang buruk, suhu dalam rumah dapat meningkat drastis.

"Di ruangan berukuran 10x10 meter dengan pintu tertutup, kondisi ini dapat meningkatkan suhu ruangan, terutama jika aliran udara buruk dan perangkat elektronik yang terus menyala sepanjang hari," terang Gilbertsen.

Temukan Hunian Sejuk dan Nyaman bersama PropNex!

Menciptakan rumah yang sejuk dan hemat energi bukan hanya soal kekuatan AC, tetapi juga tentang kualitas rancang bangun hunian itu sendiri. Jika Anda lelah "berperang" melawan panas di rumah Anda saat ini, mungkin ini saatnya mencari properti yang lebih baik.

Tampilan aplikasi PropNex+ di layar smartphone, dengan tagline “Urusan Properti Lebih Mudah!” dan menu fitur pencarian properti, proyek hot, serta penawaran terbaik.

Aplikasi PropNex+

PropNex memiliki portofolio properti modern di Surabaya yang dirancang dengan memperhatikan isolasi, sirkulasi udara, dan material bangunan yang tepat. Temukan hunian yang sejuk dengan unduh aplikasi PropNex+!

Berita Terbaru

Contact Person